Definisi Rekrutmen
Perekrutan tenaga kerja yang baru bagi suatu
perusahaan atau organisasi merupakan tantangan bagi Manajemen Sumber Daya
Manusia, karena perekrutan tenaga kerja merupakan fungsi Manajemen Sumber Daya
Manusia khususnya perencanaan. Menurut Hasibuan ( 2012 : 40 ) menjelaskan bahwa
:
“Penarikan atau perekrutan adalah usaha mencari dan
mempengaruhi tenaga kerja agar mau melamar lowongan pekerjaan yang ada dalam
suatu perusahaan”
Pendapat lain dikemukakan oleh Bernadin dan Russel
rekrutmen merupakan proses penemuan dan penarikan para pelamar yang tertarik
dan memiliki kualifikasi terhadap lowongan yang dibutuhkan. ( Ambar T. Sulistiyani, 2003 : 134 ).
Handoko (2008 ; 69) Rekrutmen (penarikan) adalah
proses pencarian dan ‘pemikatan’ para calon karyawan (pelamar) yang mampu untuk
melamar sebagai karyawan. Proses ini dimulai ketika para pelamar dicari dan
berakhir bila lamaranlamaran (aplikasi) mereka diserahkan. Proses penarikan ini
penting karena kualitas sumber daya manusia organisasi tergantung dari kualitas
penarikannya.
Menurut Sheila M. Rioux, Ph.D., and Paul Bernthal,
Ph.D (1999). dalam Recruitment and Selection Practices mengatakan bahwa “Recruitment
is the process of identifying and attracting potential candidates from within
and outside an organization to begin evaluating them for future employment.
Once candidates are identified, an organization can begin the selection
process. This includes collecting, measuring, and evaluating information about
candidates' qualifications for specified positions. Organizations use these
processes to increase the likelihood of hiring individuals who possess the
right skills and abilities to be successful at their jobs” ( perekrutan
adalah proses tentang mengidentifikasi dan menarik calon-calon potensial dari
dalam dan satu organisasi luar untuk mulai mengevaluasi mereka untuk
ketenaga-kerjaan masa depan. Begitu calon calon dikenali, satu organisasi dapat
mulai proses pemilihan. Hal ini termasuk pengumpulan, mengukur, dan
mengevaluasi informasi tentang kecakapan-kecakapan calon untuk posisi-posisi
yang ditetapkan. Organisasi-organisasi gunakan ini semua proses-proses untuk
meningkatkan kemungkinan tentang penggunaan merekrut individu yang menguasai
ketrampilan-ketrampilan dan kemampuan-kemampuan yang benar agar berhasil pada
pekerjaan mereka). (http://www.scribd.com/doc/23658534/The-Role-of-Recruitment-and-
Selection)
Menurut Rynes, Bretz & Gerhart. 1991, dalam
Necessity of Effective Communication About Salary and Other Benefits of Entry
Level Positions: An Empirical Study, Vol. 3. No. 1 mengatakan bahwa “Recruitment
is commonly viewed as an element in the socialization process prior to
organizational entry. During this stage, employers attempt to attract the type
of employee who is most likely to be successful in the organization. This is
done, in part, because selection is a two way decision-making process” (Perekrutan
adalah biasanya dipandang sebagai satu unsur di dalam proses sosialisasi
sebelum masukan organisatoris. Selama langkah dalam tahap ini, usaha para
pemberi kerja untuk menarik jenis dari karyawan siapa yang paling mungkin untuk
sukses di dalam organisasi. Hal ini dilakukan dalam bagian, karena pemilihan
adalah suatu dua proses pengambilan keputusan jalan). (http://www.daffodilvarsity.edu.bd/library/opac/b&e/v3n1j8/5=Iftekha
r%20Amin%20Chowdhury.pdf)
Tujuan rekrutmen adalah :
1) Rekrutmen sebagai alat keadilan sosial
2) Rekrutmen sebagai teknik untuk memaksimumkan
efisiensi.
3) Rekrutmen sebagai strategi responsivitas politik.
Tujuan-tujuan pasca pengangkatan perlu pula
dipikirkan. Tujuan lain adalah bahwa upaya-upaya perekrutan hendaknya mempunyai
efek luberan yakni citra umum organisasi harus menanjak dan bahkan
pelamar-pelamar yang gagal haruslah mempunyai kesan positif terhadap organisasi
dan produknya.
Menurut Siagian ( 2006 :102 ) rekrutmen adalah proses
mencari, menemukan dan menarik para pelamar yang kapabel untuk dipekerjakan
dalam dan oleh suatu organisasi.
Menurut
Simamora (2004:212) Rekrutmen (Recruitment)
adalahserangkaian aktivitas mencari dan memikat pelamar kerja dengan motivasi, kemampuan, keahlian, dan pengetahuan
yang diperlukan guna menutupi kekurangan yang diidentifikasi dalam perencanaan
kepegawaian.
Menurut
Schermerhorn (2005) Rekrutmen (Recruitment)
adalah proses penarikan sekelompok kandidat untuk mengisi posisi yang
lowong. Perekrutan yang efektif akan membawa peluang pekerjaan kepada perhatian
dari orang-orang yang berkemampuan dan keterampilannya memenuhi spesifikasi
pekerjaan.
Menurut
Gomes (2003:105) Rekrutmen merupakan proses mencari, menemukan, dan
menarik para pelamar untuk dipekerjakan dalam dan oleh suatu organisasi. Rekrutmen
merupakan proses komunikasi dua
arah. Pelamar-pelamar menghendaki informasi yang akurat mengenai seperti apakah
rasanya bekerja di dalam organisasi bersangkutan. Organisasi-organisasi sangat
menginginkan informasi yang akurat tentang seperti apakah pelamar-pelamar
tersebut jika kelak mereka diangkat sebagai pegawai.
Eugene McKenna dan Nic Beech dalam Harbani Pasolong (
2010 : 154), mengatakan bahwa: “Rekrutmen merupakan proses penarikan sekelompok
kandidat untuk mengisi posisi yang lowong.“
Edwin B. Flipo dalam Harbani Pasolong ( 2010 : 154 )
mengatakan bahwa “Rekrutmen adalah mencari calon pegawai dan merangsang mereka untuk melamar pekerjaan dalam organisasi bersangkutan“
Ales. Nitisemito dalam Harbani Pasolong ( 2010: 154 )
mengatakan seleksi adalah menetapkan syarat apa yang diperlukan untuk
jabatanjabatantertentu, yang selanjutnya instansi menarik pegawai dari
sumber-sumber tenaga kerja.
Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa
rekrutmen adalah proses mencari dan menemukan pegawai atau pelamar yang sesuai
dengan kualifikasi yang ada pada sebuah instansi maupun organisasi. Pada
prinsipnya yang disebut rekrutmen adalah proses mencari, menemukan dan menarik
para pelamar untuk menjadi pegawai pada dan oleh organisasi tertentu.
Selanjutnya rekrutmen juga dapat didefinisikan sebagai serangkaian aktivitas
mencari, memikat pelamar kerja dengan motivasi, kemampuan, keahlian, dan
pengetahuan yang diperlukan guna menutupi kekurangan yang diidentifikasi dalam
perencanaan kepegawaian.
Alasan dan Tujuan Rekrutmen
Perekrutan dilaksanakan dalam suatu organisasi karena
kemungkinan adanya lowongan atau formasi dengan beraneka alasan. Menurut Ambar
T. Sulistiyani alasan diadakan rekrutmen diantaranya adalah :
1) Berdirinya organisasi baru
2) Adanya perluasan kegiatan organisasi
3) Terciptanya pegawai-pegawai dan kegiatan-kegiatan baru
4) Adanya pegawai yang pindah ke organisasi lain
5) Adanya pegawai yang berhenti, baik dengan hormat
maupun tidak dengan hormat sebagai tindakan punitif.
6) Adanya pegawai yang berhenti karena memasuki usia
pensiun.
7) Adanya pegawai yang meninggal dunia.( Ambar T.
Sulistiyani, 2003 : 140 ).
Seiring dengan perkembangan jaman dan kemajuan ilmu
pengetahuan dan tekhnologi yang mana menuntut sebuah organisasi maupun instansi
pemerintah mempunyai tenaga ahli dibidang tersebut. Sehingga dibukalah formasi
baru untuk mengisi jabatan tersebut sehingga instansi tersebut juga bisa
mengikuti perkembangan tekhnologi yang selalu dan terus berkembang.
Dasar- dasar program rekrutmen yang baik mencakup
faktor-faktor berikut:
a) Program rekrutmen memikat banyak pelamar yang memenuhi
syarat.
b) Program rekrutmen tidak pernah mengkompromikan standar
seleksi.
c) Berlangsung atas dasar berkesinambungan.
d) Program rekrutmen itu kreatif, imajinatif, dan
inovatif. ( Ambar T. Sulistiyani, 2003 : 140 ).
Menurut
Simamora (2004:214) proses rekrutmen memiliki beberapa tujuan, antara lain:
1) Untuk
memikat sekumpulan besar pelamar kerja sehingga organisasi akan mempunyai
kesempatan yang lebih besar untuk melakukan pemilihan terhadap calon-calon
pekerja yang dianggap memenuhi standar kualifikasi organisasi.
2) Tujuan
pasca pengangkatan (post-hiring goals)
adalah penghasilan karyawan-karyawan yang merupakan pelaksana-pelaksana yang
baik dan akan tetap bersama dengan perusahaan sampai jangka waktu yang masuk
akal.
3) Upaya-upaya
perekrutan hendaknya mempunyai efek luberan (spillover effects) yakni citra
umum organisasi haruslah menanjak, dan bahkan pelamar-pelamar yang gagal
haruslah mempunyai kesan-kesan positif terhadap perusahaan.
Proses Rekrutmen
Kegiatan rekrutmen PNS meliputi :
1) Perencanaan kebutuhan pegawai
Syuhadak dalam Harbani Pasolong (2010:154 ) mengatakan
bahwa perencanaan kebutuhan pegawai adalah suatu proses yang sistematis dan
kontinu untuk menganalisis kebutuhan sumber daya manusia bagi suatu organisasi,
dalam kondisi dan kebijakan personalia yang berkembang untuk efektivitas
organisasi jangka panjang.
Perencanaan PNS perlu bagi suatu organisasi agar
organisasi tersebut tidak mengalami hambatan dalam mencapai tujuannya dalam
rangka mengahadapi pengaruh-pengaruh perkembangan ilmu pengetahuan dan
tekhnologi.
Manfaat perencanaan PNS :
a) PNS yang sudah ada dapat lebih diberdayakan atau lebih
dioptimalkan dalam melaksanakan suatu pekerjaan, jika sudah diketahui jumlah
PNS, pendidikan, pengalaman kerja, masa kerja, keterampilan khususnya, maka
akan lebih mudah untuk melakukan promosi, mutasi atau demotasi.
b) Kebutuhan PNS masa akan datang dapat dengan cepat
diketahui. Jika data kuantitas dan kualitas pegawai sudah diketahui. Suatu
ketika ada pegawai yang pensiun, pindah, maka dengan cepat dapat melakukan
pengisian PNS yang dibutuhkan.
c) Data PNS selalu tersedia karena perencanaan PNS
idealnya berisi : Jumlah PNS yang ada, masa kerja, tingkat pendidikan, keahlian,
golongan atau pangkat jabatan, status perkawinan, jumlah keluarga dan pegawai
yang akan memasuki masa pensiun.
d) Dapat dijadikan sebagai pijakan untuk menyusun
program-program pengembangan PNS. Dengan data yang lengkap tentang PNS, maka
lebih mudah untuk mengikutsertakan pegawai dalam mengikuti pendidikan san
latihan yang sesuai dengan kebutuhan instansi, agar kinerja PNS yang ada akan
dapat lebih ditingkatkan.
2)
Analisis Jabatan
Michael J. Jucius dalam Saydam dalam Harbani Pasolong (2010:
156) mengatakan bahwa untuk analisa pekerjaan diperlukan informasi tentang :
a) Nama pekerjaan
b) Jumlah pegawai yang ada dalam pekerjaan itu
c) Sarana dan prasarana yang dipergunakan dalam pekerjaan
itu
d) Posisi dalam unit kerja
e) Jam kerja dan tingkat kompensasi yang diberikan
f) Kondisi kerja fisik dan sosial
g) Jenis-jenis kewajiban
h) Syarat-syarat pendidikan dan pelatihan
i) Kecakapan, bakat, dan kemampuan yang diperlukan
j)
Jenjang promosi dan
mutasi
Tugas dalam analisis pekerjaan menurut Iain Maitland
dalam Harbani Pasolong ( 2002 : 158) antara lain :
a) Menganalisis pekerjaan
b) Membuat uraian pekerjaan
c) Menetapkan spesifikasi pegawai
3)
Formasi
4)
Pengadaan Pegawai
Sedangkan menurut A. W. Widjaja ( 2006 : 50) proses
penerimaan sesungguhnya atau rekrutmen melalui tahap- tahap, mulai dari tahap
pengumuman sampai dengan pengangkatan menjadi Pegawai sebagai berikut :
1) Pengumuman
Pengumuman disebarkan dengan seluas-luasnya melalui
mass media atau media lainnya yang tersedia dan mungkin digunakan. Dilakukan
oleh pejabat yang berwenang atau pejabat lain yang ditunjuk olehnya. Dilakukan
sekurang-kurangnya satu bulan sebelum tanggal penutupan lamaran. Tercantum
didalamnya yaitu :
a) Jumlah dan jenis lowongan
b) Syarat yang harus dipenuhi oleh setiap pelamar
c) Alamat tempat lamaran diajukan
d) Batas waktu pengajuan surat lamaran
e) Dan lain-lain yang dipandang perlu
2) Pelamar
Surat lamaran secara tertulis dengan huruf latin
dengan tulisan tangan sendiri. Kemudian diajukan kepada instansi yang
bersangkutan, dilengkapi lampiran yang sesuai syarat. Diajukan sebelum tanggal
penutupan.
3) Penyaringan.
Meliputi tahap-tahap administratif yaitu meneliti
surat lamaran yang masuk, apakah sudah sesuai dengan syarat yang telah
ditentukan dalam pengumuman. Pengumuman dilakukan secara fungsional oleh
pejabat yang diserahi urusan kepegawaian. Kemudian disusun dan didaftar
sehingga memudahkan pemanggilan.
4) Pengangkatan dan Penempatan
Proses
rekrutmen meliputi beberapa poin penting, menurut Simamora (2004:221):
1) Penyusunan
strategi untuk merekrut. Di dalam penyusunan strategi ini, departemen sumber
daya manusia bertanggung jawab didalam menentukan kualifikasi-kualifikasi
pekerjaan, bagaimana karyawan akan direkrut, di mana, dan kapan.
2) Pencarian
pelamar-pelamar kerja. Setelah rencana dan strategi perekrutan disusun,
aktivitas perekrutan sesungguhnya bisa berlangsung, melalui sumber-sumber
perekrutan yang ada. Banyak atau sedikitnya pelamar dipengaruhi oleh usaha dari
pihak perekrut di dalam menginformasikan lowongan, salah satunya adanya ikatan
kerjasama yang baik antara perusahaan dengan sumber-sumber perekrutan external
seperti sekolah, universitas.
3) Penyisihan
pelamar-pelamar yang tidak cocok / penyaringan. Setelah lamaran-lamaran
diterima, haruslah disaring guna menyisihkan individu yang tidak memenuhi
syarat berdasarkan kualifikasi-kualifikasi pekerjaan. Di dalam proses ini
memerlukan perhatian besar khususnya untuk membendung diskualifikasi karena
alasan yang tidak tepat, sehingga di dalam proses ini dibutuhkan kecermatan
dari pihak penyaring.
4) Pembuatan
kumpulan pelamar. Kelompok pelamar (applicant
pool) terdiri atas individu-individu yang telah sesuai dengan kriteria yang
telah ditetapkan oleh perekrut dan merupakan kandidat yang layak untuk posisi
yang dibutuhkan.
Metode dan Sistem Rekrutmen
Adanya lowongan pekerjaan dalam suatu perusahaan,
bukan berarti dengan sendirinya akan ada calon-calon pelamar untuk pekerjaan
tersebut. Dalam proses penarikan tenaga kerja, prioritas utama dititikberatkan
pada orientasi Manajemen Sumber Daya Manusia berdasarkan pertimbangan dan
kebijakan yang diambil.
Adapun metode yang digunakan dalam Perekrutan tenaga
kerja menurut pendapat Faustino Cardoso Gomes (2003 : 111-113) menyatakan ada
dua macam metode dalam proses perekrutan tenaga kerja, yaitu :
1) Sentralisasi
Perekrutan dengan metode ini sering dipakai karena
lebih efisien bila digunakan pada perusahaan yang mempunyai banyak pekerja.
Jika perekrutan sentralisasi instansi atau perusahaan yang mengelola sumber
daya manusia akan bertanggung jawab untuk meminta para manajer memperkirakan
secara periodik mengenai jumlah dan tipe para pekerja baru yang dibutuhkan
dimasa yang akan datang. Oleh karena itu, instansi Manajemen Sumber Daya
Manusia pada tingkat pusat akan mengeluarkan pengumuman perihal lowongan kerja
yang tersedia, diamana setiap pengumuman tentang lowongan pekerjaan tersebut
harus memasukkan informasi seperti :
a) Jenis pekerjaan, klasifikasi pekerjaan dan besarnya
gaji
b) Lokasi tugas
c) Gambaran dari kewajiban kerja
d) Kualifikasi minimal
e) Tanggal mulai kerja
f) Prosedur pelamaran
g) Tanggal penutupan
2) Di disentralisasikan
Perekrutan yang di disentralisasikan biasanya terjadi
di instansi atau perusahaan-perusahaan kecil, kebutuhan rekrutmen terbatas.
Perekrutan dengan cara ini selalu dipakai untuk posisi khas professional,
ilmiah atau administratif bagi suatu instansi atau perusahaan tertentu.
Instansi tersebut biasanya lebih memilih perekrutan yang di disentralisasikan
karena mereka secara langsung mengendalikan proses rekrutmen. Hanya saja
kelemahan para
pimpinan tingkat pusat akan kehilangan kendali
mengenai proses rekrutmen tersebut dijalankan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang sudah ditetapkan atau tidak.
Sependapat juga dengan juga pendapat A. W. Widjaja ( 2006
: 48 ) bahwa metode rekrutmen ada dua beserta kelemahan dan kekurangannya,
yaitu :
1) Sistem Sentralisasi
a) Keuntungan, adanya norma yang sama, cara penerimaan
yang seragam dan dapat lebih dijamin mutu pegawai.
b) Kelemahan, sangat sulit dilaksanakan berhubung dengan
luasnya wilayah dan masih sulitnya perhubungan.
2) Sistem Desentralisasi
a) Keuntungan, dapat melaksanakan pengadaan pegawai baru
dengan cepat.
b) Kelemahan, tidak terdapat keseragaman dalam cara
penerimaan, kemungkinan penentuan norma yang berbeda, yangmungkin tidak
menjamin mutu pegawai.
Saksono (1995 : 30). Ada tiga sistem rekrutmen tenaga
kerja (pegawai) yaitu:
1) System patronage (kawan) yaitu sistem penarikan karyawan yang didasarkan adanya hubungan
subyektif yaitu: hubungan yang diperhitungkan antara subyek-subyeknya. Dalam
sistem ini, pada dasarnya terdapat beberapa hubungan subyetif antara lain
sebagai berikut:
a)
Spoils system (hubungan yang bersifat politik) adalah pengangkatan
atau penunjukan karyawan yang berdasarkan selera pribadi atau berdasarkan
kepentingan suatu golongan.
b)
Nepotisme system
(hubungan yang non politik) adalah sistem ini dalam
praktik pengangkatan pegawai didasarkan keluarga, kawan yang akrab atau teman
yang baik.
2) System meryt (kecakapan)
yaitu penarikan karyawan yang didasarkan pada kecakapan, bakat, pengalaman,
kesehatan sesuai dengan kriteria yang telah dibuat sebelumnya.
3) System carier (meningkat)
yaitu memberikan kesempatan pada pegawai atau karyawan untuk mengembangkan
bakat serta kecakapan selama dia mampu bekerja dengan harapan dapat naik
jabatan sampai pada batas kemampuannya.
Sedangkan menurut Ambar T. Sulistiyani ( 2003 :145 )
menambahkan metode rekrutmen yaitu, metode Name Request yaitu kombinasi antara
politik dan pelayanan yang melibatkan nilai respon politik dan efisiensi
pengelolaan. Seperti perekrutan berdasarkan pada kebutuhan instansi dalam suatu
instansi. Para pegawai yangterpilih meminta birokrat tertentu untuk melihat
apakah seorang sesuai dengan kualifikasi tertentu. Selanjutnya mereka akan
dinasehati oleh birokrat. Khusunya untuk lowongan-lowongan jabatan professional
dan administratif..
Menurut
Simamora (2004:246) untuk menciptakan suatu sistem rekrutmen yang efektif para
manajer dan manajer sumber daya manusia, seyogyanya menerapkan beberapa hal,
antara lain:
1) Mendiagnosis
seefektif mungkin (berdasarkan kendala waktu, sumber daya finansial, dan
ketersediaan staff pelaksana yang ada) faktor-faktor lingkungan dan
organisasional yang mempengaruhi posisi yang perlu diisi dan aktivitas
rekrutmen
2) Membuat
deskripsi, spesifikasi, dan standart kinerja yang rinci.
3) Menentukan
tipe individu-individu yang sering dikaryakan oleh organisasi dalam posisi yang
sama.
4) Menentukan
kriteria-kriteria rekrutmen.
5) Mengevaluasi
berbagai saluran dan sumber rekrutmen
6) Menyeleksi
sumber rekrutmen yang kemungkinan menghasilkan kelompok kandidat yang paling
besar dan paling sesuai pada biaya yang serendah mungkin.
7) Mengidentifikasikan
saluran-saluran rekrutmen untuk membuka sumber-sumber tersebut, termasuk
penulisan iklan, menjadwalkan program rekrutmen.
8) Menyeleksi
saluran rekrutmen yang paling efektif biaya.
9) Menyusun
rencana rekrutmen yang mencakup daftar aktivitas dan daftar untuk
menerapkannya.
Metode penarikan akan berpengaruh besar terhadap
banyaknya lamaran yang masuk ke dalam perusahaan. Metode penarikan calon
karyawan baru adalah metode tertutup dan metode terbuka (Hariandja, 2002 ; 189).
1) Metode tertutup
Metode tertutup adalah ketika penarikan hanya
diinformasikan kepada para karyawan atau orang-orang tertentu saja.
Akibatnya lamaran yang masuk relatif sedikit sehingga kesempatan untuk
mendapatkan karyawan yang baik sulit.
2)
Metode terbuka
Metode terbuka adalah ketika penarikan diinformasikan
secara luas dengan memasang iklan pada media masa cetak maupun elektronik, agar
tersebar luas ke masyarakat. Dengan metode terbuka diharapkan lamaran banyak
masuk sehingga kesempatan mendapatkan karyawan yang qualified lebih besar.
Kendala dalam Rekrutmen
Kendala dalam rekrutmen diantaranya :
1) Faktor – faktor organisasi
Adanya berbagai kebijaksanaan
yang ditetapkan dan diberlakukan dalam suatu organisasi dimaksudkan agar
organisasi yang bersangkutan semakin mampu mencapai tujan dan sasarannya
sehingga bisa saja kebijaksanaan tersebut membatasi ruang gerak pencari tenaga
kerja baru.
2) Kebiasaan para pencari kerja
Karena beberapa faktor seperti latar belakang
pendidikan dan pengalaman, para pencari kerja tersebut dalam melaksanakan rekrutmen
mungkin saja mempunyai kebiasaan-kebiasaan tertentu yang tentunya ada segi
positif yaitu proses rekrutmen dapat berjalan relatif cepat berkat pengalaman
dan pengetahuannya, maupun negatifnya yaitu kecenderungan melakukan kesalahan
yang sama dan sikap pandang enteng terhadap tugasnya.
3) Faktor-faktor eksternal yang bersumber dari lingkungan
organisasi bergerak.
Tidak bisa diabaikan apa yang terjadi disekitar
organisasi, artinya faktor-faktor eksternal atau lingkungan harus selalu
mendapat perhatian, yaitu :
a) Tingkat pengangguran, dalam hal ini ketika tingkat
pengangguran tinggi maka para perekrut harus bisa bertindak lebih selektif
karena bisa saja banyak pelamar yang melebihi ketentuan organisasi sebaliknya
ketika tingkat pengangguran sangat rendah maka pencari tenaga kerja tidak dapat
jual mahal kepada para pelamar.
b) Kedudukan organisasi pencari tenaga kerja, dalam hal
ini organisasi yang mempunyai kedudukan tinggi maka akan membuat para pelamar
merasa senang akan berada pada organisasi tersebut. Langka tidaknya keahlian,
dalam hal ini terpengaruh oleh semakin beranekaragamnya keahlian dan
keterampilan menuntut sebuah organisasi tersebut merekrut tenaga yang pada
dasarnya sangat terbatas sehingga tidak jarang sebuah organisasi merubah
kebijaksanaan.
c) Peraturan perundang-undangan dibidang ketenagakerjaan,
peraturan yang harus ditaati dan tidak bisa diganggu gugat lagi.
d) Praktek rekrutmen oleh organisasi lain, terjadinya
praktekpraktek melanggar norma etika dalam sebuah organisasi.
e) Tuntutan tugas yang kelak akan dikerjakan oleh para
pekerja baru itu, dalam hal ini para pencari kerja biasanya dihadapkan pada
keadaan dimana mencari tenaga kerja yang sudah berpengalaman lebih sulit
daripada mencari tenaga kerja yang baru saja lulus. ( Sondang P. Siagian, 2006
: 104 – 111)
Prinsip-prinsip rekrutmen
Rivai (2004 : 161)
mengemukakan prinsip-prinsip rekrutmen sebagai berikut:
1) Mutu karyawan yang akan direkrut harus sesuai dengan
kebutuhan yang diperlukan untuk mendapatkan mutu yang sesuai. Untuk itu
sebelumnya perlu dibuat:
a) Analisis pekerjaan.
b) Deskripsi pekerjaan.
c) Spesifikasi pekerjaan.
2) Jumlah karyawan yang diperlukan harus sesuai dengan job
yang tersedia untuk mendapatkan hal tersebut perlu dilakukan:
a) Peramalan kebutuhan tenaga kerja.
b) Analisis terhadap kebutuhan tenaga kerja (work
force analysis)
c) Biaya yang diperlukan diminimkan.
d) Perencanaan dan keputusan-keputusan strategis tentang
perekrutan.
e) Fleksibelity.
f) Pertimbangan-pertimbangan hukum.
Sumber-sumber rekrutmen
Secara umum sumber calon tenaga kerja meliputi sumber
internal dan sumber eksternal (Hariandja, 2002 ; 108).
1)
Sumber internal
adalah orang-orang yang sudah menjadi pegawai perusahaan, yang sudah menduduki
jabatan tertentu yang mungkin dapat dipindahkan (transfer), dinaikan jabatannya
(promosi), atau diturunkan jabatannya (demosi) untuk mengisi jabatan yang
kosong melalui proses seleksi yang akan dilakukan
a) Kelebihan sumber internal
Lebih murah, lebih cepat, waktu orientasi lebih
singkat, dan memungkinkan penilaian kemampuan lebih tepat.
b) Kekurangan sumber internal
Membatasi pemikiran-pemikiran baru, dapat mendorong
pertentangan di antara pegawai, memperkecil kelompok pelamar potensial, dan
menghamhat usaha untuk meningkatkan keanekaragaman tenaga kerja.
2)
Sumber eksternal
adalah orang-orang yang belum menjadi pegawai perusahaan, yang akan ditarik
untuk menjadi calon pegawai perusahaan. Merekrut karyawan secara eksternal
yaitu melalui: pelamar kerja langsung (walk-in), lamaran tertulis,
lamaran berdasar informasi dari orang dalam, iklan, instansi pemerintah,
perusahaan penempatan tenaga kerja, lembaga pendidikan, sarikat pekerja, balai
latihan kerja pemerintah, balai latihan kerja swasta.
a) Kelebihan sumber eksternal
Jumlah calon yang lebih besar, membantu meningkatkan
jenis tenaga kerja, mendorong masuknya pemikiran baru, biaya yang lebih rendah
untuk pelatihan pegawai professional, tidak ada kelompok politik yang ber
aliansi dalam perusahaan, kemungkinan membawa rahasia pesaing, dan membantu
memenuhi kebutuhan kesempatan kerja yang sama.
b) Kelemahan sumber eksternal.
Menimbulkan ketidaksenangan pegawai yang ada,
memerlukan biaya yang lebih besar, menyita banyak waktu, dan membutuhkan
orientasi lebih lama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar